Minggu, 20 Desember 2020

Menuju Brexit


sepanjang tol palimanan
Beautiful scenery while driving di tol. Eh my husband drove not me, saya mah hanya bertindak sebagai navigator berbekal google map he he he. Walaupun lewat tol dan tujuan jelas, kadang google map dibutuhkan juga untuk cari rest area terdekat kalau-kalau pasukan kecil butuh toilet atau sekedar cari kopi ketika yang nyetir lelah. Jadi bisa di estimasi berapa kilo lagi “supir pribadi” kudu bertahan untuk menggapai the next rest area.


Mudik yang enak memang pas sepi. Tol lancar, dan sampai dengan cepat ke tujuan. Apalagi kampung suami termasuk dekat dengan pintu tol brexit yang kalau pas musim mudik konon kabarnya bisa macet mengular. Akses tol juga makin mudah, tinggal pakai e- toll plus e-money yang bisa dibeli di indomaret atau alfamart yang sudah kerjasama dengan bank, tinggal top up dan udah bisa dipake belanja dan bayar tol. Sekarang sih banyak jenisnya ya, masing – masing bank juga ada produknya. Macam debit tapi gak perlu punya akun di bank. Tinggal ditempelin di gardu tol, tunggu lampu hijau menyala, ambil struk dan gerbang tol terbuka. Sekalian bisa cek sisa saldo di layar monitor yang tersedia di sebelah gardu tol. Sistim elektronifikasi ini bikin proses transaksi bayar tol lebih cepat. Manfaat juga kalau naik taxi online dalam kota macam Grab kalau lewat tol bisa langsung sodorkan kartu e-toll kita ke supirnya. Jadi gak perlu ganti pakai cash setelah selesai diantar.


Berbekal google map tadi, memang jadi andelan deh. Di google map bisa tau rest area terdekat dimana aja, berapa persen macetnya jalan dan info lainnya. Enaknya sekarang, rest area yang bersih dan komplit semakin banyak di sepanjang jalan tol, jadi makin nyaman mudik pakai mobil. Mau melipir ke Batik Trusmi dulu ke Cirebon bisa, sekalian nyicip empal gentong yang jadi ciri khas kulineran Cirebon. Atau mampir ke Subang ke pemandian air panas ciater juga tinggal cari keluar tol nya, sekalian bawa pulang ubi cilembu yang legend dan manisnya peuyeum Bandung. Mudik memang menyenangkan selama bukan musim mudik ya hi hi hi

Empal Gentong, rasanya mirip Soto Betawi
Ayam Bakar Madu Batik Kitchen











Jumat, 03 Agustus 2018

Colours Garuda Middle East


dua tulisanku
Colours Garuda Inflight Magazine

…..Setahun yang lalu, kesempatan emas itu hadir ketika diminta menulis tentang Madinah. Pertama kalinya diminta menulis untuk 5 stars Airline sungguh sesuatu yang membanggakan dan surprise buat diri pribadi. Kapan lagi bisa menerima tawaran ini?  akhirnya dengan deadline yang cukup ketat, semua bisa selesai tepat pada waktunya. Suami mendukung penuh untuk tawaran ini. Dia terus menyemangati, memotivasi dan memfasilitasi he he he.. 
Akhirnya edisi Desember 2016 – Januari 2017 naik cetak dan…taraaa… senangnya nggak bisa digambarkan he he he...
Namaku terpampang di jejeran kontributor professional… jujur saja seperti mimpi. Link dapat diakses di sini: Colours Garuda Middle East, Desember 2016 - Januari 2017





Nah, ketika kesempatan kedua datang lagi dan dengan mantab aku mengiyakan, “In shaa Allah siap!” 
…..Saat itu, Wa dari senior Colours datang tiba – tiba, menanyakan kapan tulisan bisa siap kirim? Aku yang sedang dalam rangka mudik berlibur dan saat itu sedang dalam mobil menghadapi kemacetan tol menuju Bekasi, "ditodong" tiba - tiba he he he...
Memang segala sesuatu kudu dipaksakan ya? dan alhamdulillah dengan tips dan trik jitu dari senior Colours, akhirnya tulisanku selesai dan naik cetak! Benar – benar masih seperti mimpi bisa menulis di Inflight Magazine five stars airlines, maskapai kebanggan negeri.
kali ini Taif dan wajah baru pantai di Jeddah mengisi Edisi Agustus – September 2018.  Colours Garuda Middle East, Agustus - September 2018







Ada yang bertanya ..."gimana sih biar tulisan bisa dimuat di media cetak atau online?" jujur saya juga  masih dalam tahap belajar dan belajar. Tapi sebenarnya aktif menulis! lalu berikutnya keberuntungan he he he. Blog membantu kita untuk tetap latihan menulis terus menerus, menuangkan ide - ide dan apa saja yang terlintas dalam pikiran kita. Jangan salah...kadangkala, mereka  yang menemukan kita di jagat maya, lho. Mereka membaca tulisan - tulisan kita yang aktif dan positif, lalu mengontak kita. Nah, disinilah peran blog membantu kita untuk bisa menemukan keberuntungan itu he he he...dan Inilah yang saya alami.

Saya juga aktif di media sosial seperti Facebook dan Instagram, menjadi salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan untuk berlatih menulis dan bercerita pendek sambil upload foto. Ini saya banget! saya suka bercerita melalui foto yang saya ambil sendiri. Walau kadang - kadang hanya berupa caption pendek tapi bermakna.

Untuk foto, akan lebih baik jika tulisan yang kita kirimkan disertakan dengan foto yang kita punya. Tapi kadang - kadang media cetak memiliki standar kedetailan gambar sendiri. Misalnya majalah Garuda..untuk naik cetak mereka butuh foto sekitar 300 dpi. Sangat detail sekali! jadi foto dibwah itu belum bisa memenuhi syarat naik cetak. Selain gambar yang detail, keindahan warna dan panorama juga menjadi pertimbangan. Tapi nggak usah khawatir kalau nggak punya foto yang bagus untuk disertakan. Hanya setor tulisan saja bisa kok, dan pihak mereka yang akan menyediakan fotonya.

Selamat Menulis!* menyemangati diri juga he he he..



Senin, 30 Juli 2018

Hari Ini..



30 Juli

Hari ini setahun yang lalu dan beberapa tahun sebelumnya...nomor WA dari babe selalu masuk diwaktu subuh.
πŸƒπŸ‚。。。。
Setiap tanggal ini... dari tahun ke tahun...WA itu rajin menyapa pertama kalinya dari belahan bumi sana....
πŸƒπŸ‚。。。。
Dari tahun ketahun...Kami semua tahu kalau kami nggak pernah sedikitpun merayakannya. Tapi ucapan itu benar- benar sesatu yang istimewa terucap tulus dari ayah kepada anaknya.

Eyang Kung Babe (biasa cucu memanggilnya) selalu ingat tanggal lahir anak- anak, hingga cucu, bahkan semua menantunya.. Ditandainya di kalender, dituliskannya pada lembaran kipas.
Tapi tepat hari ini... tahun ini... subuh datang...tapi nggak ada lagi ucapan itu..
Ya Rabb...
ampunilah dan rahmatilah dia. Selamatkan dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan terhadapnya, luaskanlah tempat kuburnya..aamiin... πŸ˜”



Note for my self,... bahwa setiap yang berjiwa akan merasakan kematian, bahkan hingga bersembunyi di lubang semut sekalipun kematian akan tetap menjumpainya. Sesungguhnya... hari lahir merupakan reminder berkurangnya usia bukan sebaliknya...



Jumat, 20 Juli 2018

The Art of Sushi


Beberapa kali saya lihat iklan sponsor JCEC yang lewat di Instagram. Penasaran dengan iklan workshop singkat Sushi yang di upload disana.

JCEC adalah suatu organisasi yang belum lama dibentuk, memperkenalkan berbagai budaya lokal dan budaya lain melalu berbagai paket budaya, baik untuk expat ataupun penduduk lokal (Saudi). Jadi intinya JCEC ini bertujuan untuk menjembatani berbagai kegiatan yang berkaitan dengan budaya dan bahasa. Nah, salah satu program yang saya ikuti bulan April lalu adalah Sushi Workshop. Sebenarnya Sushi Workshop yang ditawarkan adalah pelajaran dasar dan dengan mudah bisa dipelajari melalui internet yang banyak beredar. Tapi tentu saja berbeda dong belajar melalui internet dengan belajar bersama-sama dengan chef yang real di depan mata he he he…

Well, jadilah saya ambil paket A untuk batch pertama, karena limited seat dan hanya dua kali pertemuan. Biaya yang dikenakan untuk one day workshop ini SAR 500, atau sekitar 1,7 juta jika dirupiahkan. Waaah lumayan banyak yaa ha ha ha…Tapi yang namanya ilmu kan memang mahal. Awalnya ragu, tapi suami terus memotivasi saya untuk ikut. Bahkan suami juga yang mendaftarkan. Thank you beib ;)

Malam workshop, saat memasuki pintu beberapa panitia sudah menyambut, ada beberapa orang Arab, satu orang Philipina, dan satu orang bule yang sepertinya Mr. Chris, manager di JCEC. Salah satu panitia yang berwajah Arab menanyakan nama saya, lalu memberikan name tag seperti stiker yang bisa ditempel di pakaian. Name tag bertuliskan nama Viccy dalam dual Bahasa, Kanji dan alphabet biasa. Saya duduk dengan peserta lain di lobi dan sempat berkenalan dengan Shopia, perempuan manis asal US yang ramah. Ternyata Sophia sushi lovers, kecintaannya dengan sushi yang mendorong Shopia untuk ikut one day workshop ini. Katanya, “you know Viccy, i will make a lot at home after this class is finished!”, lalu tertawa senang. Ah dia lucu sekali…
Para peserta ada yang berasal dari Prancis, beberapa dari Amerika, dan sebagian berasal dari Middle East,  hanya ada satu orang lokal (Saudi) dan saya satu satunya peserta dari Indonesia he he he...

Beberapa menit kemudian, Mr. Chris mempersilahkan kami untuk naik ke lantai satu dan meminta kami untuk menuci tangan terlebih dahulu lalu memasuki kelas kursus. Ruangannya cukup lega walau tidak begitu besar. Agak sedikit berbentuk letter L dengan meja yang disusun sesuai dengan bentuk ruangan. Ditengah – tengah meja peserta, ada meja panjang yang dipakai khusus Chef untuk berdemo. Ketika masuk tadi..hmm..ruangan sudah dipenuhi bau khas sushi yang mendadak bikin lapar perut he he he..





Sang Chef memperkenalkan diri dengan dibantu penerjemah. Sesekali terdengar Miss penerjemah berbicara nihon go dengan cukup fasih ke sang Chef. Aaah...bikin iri aja Miss penerjemah hi hi hi…



Chef Yoshida adalah instrukturnya, beliau adalah Chef khusus untuk konsul Jepang di Jeddah. Chef Yoshida mulai menjelaskan proses pemembuatan sushi mulai dari mengolah nasi agar pulen dan enak, memotong ikan, mentimun dan udang, hingga membentuknya menjadi Sushi Roll, Nigiri, dan maki sushi serta bagaimana memotong sushi yang benar. Walaupun disediakan plastic hand glove buat kehigenisan, tapi nggak akan berasa  bikin sushi like native kalau pakai hand glove. So...do it with your bare hand! biar lebih afdhal bikin sushinya dan dijamen rasa lebih enak ha ha ha..
Semua dilakukan dengan cepat dan singkat, sampai nggak terasa sudah dua jam workhop berlangsung. 
peseta khusyu membuat sushi









Peserta pulang dengan membawa sushi hasil buatan sendiri, bamboo matt (bamboo untuk menggulung sushi), dan tentu saja resep rahasianya he he he..
sayangnya pisau tajam made in Japan tidak diperkenankan untuk dibawa pulang karena akan dipakai di batch hari berikutnya (hari terakhir). Lalu Mr. Chris menginfokan peserta workshop akan diberikan sertifikat sebagai bukti partisipasi.

tadaaa!..

with Sophia

the certificate




Senin, 02 Januari 2017

Explore Tokyo Part 3


Here we are...
Day 1
we're so exiting to see Japan from the sky. Sayangnya ketika pilot menjelaskan bahwa di sisi sebelah kiri bisa terlihat Mount Fuji, seat kita berada di sisi berlawanan, yaah...nggak terlihat deh Fujisan nya. Tapi dari sisi jendela kami, Tokyo Bay, jalan menuju terowongan bawah laut dan wind towernya terlihat jelas dari atas.. Sughoi..

Tower of Wind, Tokyo Bay
Disebut sebagai "Menara Angin" in local language disebut "Kaze no to". Berlokasi di sebelah tenggara airport Haneda, posisinya berada di tengah laut. Ini merupakan ventilasi udara untuk terowongan bawah laut dengan kedalaman terowongan 40 meter yang membentang sepanjang 9.6 km dari Yokohama ke Chiba. Kabarnya pembangunan terowongan bawah laut terpanjang ini menghabiskan dana sekitar $ 11.2 M dan lama pembangunan kurang lebih 31 tahun.

Nah, karena sisi Fujisan nya nggak terlihat, saya attach juga fotonya ya. siapa tahu tahun berikutnya saya bisa ambil foto Fujisan dari atas seperti ini juga hehe. Foto credit dari  Japan Community Instagram

Fujisan  from above
Airport
Kami memilih landing di Haneda karena lebih dekat dari pusat kota dibandingkan turun di bandara Narita. Dari Haneda ke Tokyo dengan kendaraan bus atau mobil hanya sekitar 30 menit, tergantung situasi traffic nya juga. Kalau ingin lebih cepat lagi pakai Tokyo Monorail hanya sekitar 20 menit ke pusat kota.

Haneda walaupun dikenal sebagai bandara Internasional Tokyo justru nggak banyak melayani rute internasional, lebih banyak melayani penerbangan domestik. Haneda termasuk bandara yang super busy dan masuk dalam peringkat 5 besar bandara tersibuk di dunia.
Nah bandara Narita yang terletak 60 km dari Tokyo terletak di Chiba Perfecture, memiliki tiga gedung terminal, lebih banyak melayani rute internasional dibandingkan Haneda, juga rute domestik dan low budget airlines. Khusus terminal 3 ini melayani low budget airlines. Kalau pilihan landing di Narita untuk ke Tokyo memakan waktu sekitar 1.5 - 2 jam.

Layanan Monorail di Haneda

Sejak dari turun pesawat hingga imigrasi kami memilih menggunakan Travelator atau Moving Walkway karena kami bawa kiddos yang cukup rempong hehe. Ternyata benar, jarak terminal ke imigrasi cukup jauh jadi kami nggak capek berjalan dan disini kami baru tahu kebiasaan di Jepang jika pakai travelator, tangga atau escalator kalau nggak terburu - buru ambillah posisi sebelah kiri karena posisi sebelah kanan dipakai untuk pejalan yang ingin lebih cepat bergerak.

use Moving Walkway on the left side if you're not in rush
Setelah selesai proses imigrasi kami langsung menuju counter Internet dan menyewa pocket internet untuk jangka waktu 1 minggu. Inilah yang menjadi salah satu "sahabat kami" selama di Jepang.

to be continued...


Rabu, 28 Desember 2016

Explore Tokyo Part 2

(episode 2)
Setelah urusan visa selesai, kita menuju penukaran uang, kabarnya lebih mahal tukar uang di Jepang ketimbang dari negara kita berangkat (eh tergantung darimana kita berangkat  hehe). So pergilah kita ke penukaran uang, change from SAR to ¥ dan juga tukar beberapa $, just in case.



Tibalah harinya kita menuju Jepang. Kami pakai penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta. Flight jam 23.00 tapi sejak habis ashar kami sudah di Soekarno-Hatta, lebih baik awal daripada telat. Kenapa kami pilih Garuda? karena tiket itu yang kami punya dan jangan tanya ya harganya berapa hehe

GA 874 CGK-HND
(hubby's boarding pass)

Setelah proses check in selesai, langsung deh kita menuju imigrasi dan menunggu di gate 7 keberangkatan international. Suasana di gate 7 sudah ramai, untung masih ada tempat duduk. Banyak orang Jepang baik keluarga, pekerja dan nampaknya mahasiswa pakai Garuda malam itu.
And here we are, sat on GA 874 to Tokyo...wohoooo...

me, Son and Hubby
Garuda tujuan Tokyo sangat nyaman lho, Nggak salah deh kalau maskapai ini dinobatkan sebagai maskapai bintang 5. Saat itu saya lihat ada 2 native flight attendant atau pramugari yang berasal dari Jepang. Mereka sangat lancar berbahasa indonesia dan sangat ramah. Selama terbang saya sering terjaga karena menyusui si kecil dan selama itu saya jarang melihat orang Jepang bolak balik ke toilet. Kebersihan toilet pesawat rute ini memang pas diberi bintang 5. Toilet yang habis pakai tidak nampak genangan air dilantainya atau genangan air di washbasin. Nampaknya kesadaran menjaga kebersihan ruang publik orang Jepang juga cukup tinggi dan ini bisa meringankan kerja mbak - mbak pramugari untuk membersihkan toilet hehe.

Meals yang masakapai ini tawarkan juga enak - enak. Saya lebih memilih ala - ala Jepang karena terlihat lebih lezat dan variatif. Puas mengawali pagi di atas Filipina dengan sarapan lezat maskapai bintang lima.

This is oishii, walau hanya dapat edamame 2 biji saja

To be Continued...

Selasa, 27 Desember 2016

Explore Tokyo Part 1

Jalan – jalan ke Jepang sama keluarga? Alhamdulillah done :D perjalanan yang cuma makan waktu satu minggu lalu benar – benar bikin kangen. We are just like backpacker, no travel agent dan thanks to all of lovely friends in Japan, Google and Hyperdia.com yang memudahkan perjalanan kami mulai dari awal hingga akhir, dari tempat wisata, lokasi, rute, jadwal kereta dan lain lain. 

Planning buat jalan – jalan ke Jepang sudah ada dalam list kami sejak lama, dan alhamdulillah bisa terwujud di tahun 2016. Agustus lalu kami berangkat ber-6. 2 Adults and 4 toodlers. Rempong? Pastinya, tapi we had so much fun there!

Sebenarnya kita ingin berangkat ketika musim gugur ketika Sakura mekar di seantero Jepang. 
Sakura sakura.. ima sakihokoru…setsuna ni chiriyuku sadame to shitte~~~ sakura sakura..they bloom now..knowing their destiny is to fall..~~~*Naotaro Moriyama – Sakura. Tapi akhirnya kita berangkat ketika summer di awal Agustus dan sakura tinggal lagunya saja hehe.

VISA
Anyway, mengenai visa kami apply dari Konsulat Jepang di Jeddah karena kami tinggal di Jeddah dan punya resident permit Saudi (Bukan Kedutaan ya, karena Kedutaan Besar Jepang adanya di Riyadh) . Alhamdulillah urusan visa nggak begitu njelimet, cuma disuruh balik sekali aja karena foto kurang pas. Butuh waktu satu minggu saja buat dapet visanya. Kalau persyaratan komplit dan waktu masukin visanya awal hari kerja bisa cuma 3 hari saja sudah selesai. Apply single visa dari Jeddah untuk jangka waktu 2 minggu dikenai biaya  95 SAR. untuk link visa bisa dilihat disini ya: Japan Visa



To be continued ...





Senin, 17 November 2014

Moms, you can be a doctor



Every moms can be a doctor? yes you can! Saya teringat salah satu film “Lorenzo’s Oil” yang pernah diputar di TVRI, fillm drama era 90an yang diangkat dari kisah nyata Michaela dan Agusto Odone (1984) tentang anaknya yang menderita Adrenoleukodystrophy adalah gangguan asam lemak oksidasi beta peroxisomal yang menghasilkan akumulasi asam lemak rantai sangat panjang dalam jaringan di seluruh tubuh (Wikipedia). Film ini Dibintangi oleh Susan Sarandon dan Nick Nolte. Mereka mencari obat terbaik untuk kesembuhan anaknya. Hingga akhirnya mereka terjun langsung mengadakan penelitian dibantu ilmuan dan para dokter untuk menciptakan suatu obat (minyak) agar anaknya bisa kembali normal. Akhirnya mereka berhasil menciptakan minyak yang diberi nama anaknya, “Lorenzo’s Oil”. 

Ketika itu saya masih duduk di kelas 6 SD menonton film drama ini tapi saya tertarik sekali mengikuti jalan ceritanya, padahal ini film drama yang isinya cuma ngobrol dan membosankan, tapi kok ya menarik lho buat ditonton. Bagaimana perjuangan orang tua menyembuhkan anaknya, ketika mereka menangis saat itu saya pun ikut menangis, melooow ah hehe. Setelah menonton film drama tersebut saya terdorong untuk menjadi seorang dokter, tapi  pada akhirnya saya belum bisa juga menjadi dokter sungguhan hee. 

Sungguh Allah mencoba saya untuk terus belajar, akhirnya saya diberikan kesempatan untuk mempelajari ilmu kedokteran khususnya Nephrology. Now I know bagaimana perasaan orang tua dari Lorenzo, yang berjuang mati matian menyembuhkan penyakit anaknya…

 ******
Dua tahun ini saya ambil “kuliah” kedokteran spesialis pediatric nephrologists (ginjal anak). Sudah tiga dosen yang kesemuanya adalah dokter spesialis  yang memberikan kuliah umum per minggu atau per dua minggu.  Satu “dosen” ketika di Indonesia yang pertama kali memberikan kuliah  nephrology. Singkat tapi banyak yang bisa saya pelajari dari pak “dosen”. Dari pak “dosen” inilah saya mengenal obat – obatan dasar bagi penderita nephrology yaitu Lasix (Furosemide) dan Kortikosteroid dengan brand nama Prednisolone atau Predo. Karena saya harus kembali ke Jeddah, “dosen” lama meminta saya menghubungi “dosen” baru ditempat saya tinggal sekarang untuk meneruskan “kuliah” Nephrology. Akhirnya “kuliah kedokteran” saya teruskan di Jeddah dan sudah berjalan dua tahun ini.

Setelah mendapat kuliah umum dari  dosen (dokter)  terbaik di Jeddah, akhirnya saya memilih “dosen” terakhir yang adalah seorang dokter perempuan spesialis ginjal anak (Pediatric Nephrologists). Bu  “dosen” ini sudah berpengalaman lama kurang lebih dua puluh tahun di Amerika dan Eropa menangani ginjal anak. Bu”dosen”  ketika memberikan “kuliah” Nephrology sangat gamblang. Nggak pelit informasi, menjelaskan hampir keseluruhan mulai dari yang umum hingga yang khusus, tes apa saja yang diperlukan baik darah maupun urine, hingga ke tulang dan mata. Bu “dosen” juga menjelaskan obat – obatan apa yang yang diberikan kepada penderita ginjal anak – anak. Nggak cuma menjelaskan fungsi obatnya, tapi ia juga menjelaskan side effect nya.  Bisa dibilang bu “dosen”kali ini cukup cerewet tapi sangat care. Ketika “mahasiswanya” nggak mudheng (kurang ngerti) dia akan terus ulang – ulang materinya. Katanya sih,” I will repeat million times until you understand, but please understand as fast as you can” hehe mekso (maksa). Kalau “mahasiswanya” telat sedikit pastilah terkena omelannya,  tapi ya tetap saja bu "dosen" memberikan kuliah singkatnya he he he.. terima kasih ya bu. 
Bicaranya cepat dengan aksen amerika yang kental padahal asli Mesir,  kadang  “mahasiswanya” harus pakai video /voice recorder ketika “kuliah” berlangsung buat di reply ulang dirumah. Haaa…ya Dokter dan "dosen" satu ini sepertinya tumbuh besar di lingkungan Amerika. Saya pikir dia “dosen” hebat, walaupun cerewet tapi sangat care dan terbuka. Kalau “mahasiswanya” nggak suka, ya monggo silahkan pindah “dosen” lain yang lebih oke. Atau kadang – kadang bu “dosen” sering kali mempersilahkan saya mencari second opinion mengenai “materi” yang dia jabarkan. 

Oh ya, di tahun ke dua “kuliah” ini, akhirnya saya mendapat materi kuliah biopsy. Bu “dosen” menjelaskan dari A-Z mengenai proses biopsy untuk dewasa maupun anak-anak serta resiko apa yang terjadi. Penjabaran materinya saya ulang lagi dirumah, untunglah mbah google selalu menjadi sahabat setia, menemani mengejar ketinggalan dan mendalami  materi dari bu “dosen”  yang kadang-kadang nggak bisa tercatat oleh saya, tinggal klik di search engine muncullah ratusan artikel terkait..and also thanks to technology. 

 
Kemarin saya mendapat pe er yang sedikit ribet, iya ribet kalo nggak ada bantuan mbah google. Bu “dosen” memberikan secarik kertas yang berisi tentang obat – obatan bagi penderita Nephrotic Syndrom yang memiliki tekanan darah tinggi dan beberapa keluhan lain. Untunglah tulisan bu “dosen” bagus dan masih bisa terbaca. Biasanya tulisan resep dari dokter hanya Tuhan dan apoteker yang tahu he he he. Awalnya bu “dosen” menjelaskan apa saja isi obat – obatannya dan berapa kali pemberian dalam sehari. Kemudian secarik kertas itu diserahkan ke saya untuk dilihat, dipelajari dan diminta untuk ditulis ulang yang rapi. Dari secarik resep bu “dosen” ini saya belajar apa itu pemberian po, qd, bid, tid, dan q6h atau prn dll. What’s that??!! Itu pe e r buat “mahasiswanya” salah dikit ngasih dosis kan bisa fatal! ya ya ya... membaca dosis kan materi basic di kedokteran, eh masa?? ya maklumlah bu "dosen" pikir kan saya "mahasiswa" barunya kudu di tes dulu mengenai baca dosis he he he. Googling lagi deh… Alhamdulillah nggak sulit menemukannya dan nambah lagi ilmunya. Ya Allah….emang manusia itu diminta belajar sepanjang masa ya. 

Oke, po artinya taken by mouth bahasa latinnya sih per os, qd (quaque die) artinya once a day, bid (bis in die) artinya twice a day, tid (ter in die) artinya three times a day.  Lha kalo q6h apa? artinya every six hours yang bahasa latinnya terbaca quaque six hora. Kadang kala dokter menuliskan q6O yang artinya juga sama. Sedangkan prn? Saya sempat bingung baca tulisan latinnya bu “dosen” ternyata prn adalah as needed yang bahasa latinnya pro re nata. Cateeeet!

Well, saya masih menjadi “mahasiswanya” bu dokter hingga saat ini. Sepekan sekali saya menghadiri “kuliah” beliau. Belum tau kapan lulus apalagi wisuda he he he. Semoga Allah memudahkan langkah saya agar bisa lulus dalam mata kuliah ini, nggak jadi mahasiswa abadi dan nggak ngambil jurusan spesialis lainnya lagi, puyeng soalnya hiks…

PS. Teruntuk para ibu atau orang tua yang putra atau putri tercintanya yang sedang sakit kita semua bisa menjadi "dokter" dan ahli gizi untuk anak – anak kita. Selama kita rajin mengikuti petunjuk dokter dan rajin mencari informasi tidak hanya dari internet, bisa juga dari dokter – dokter lain yang berpengalaman atau bisa juga dari pengalaman kerabat dan teman. In shaa Allah selain ilmu yang di dapat juga kita bisa menjadi dokter siaga bagi keluarga.

Rabu, 02 April 2014

7th Asian Film Festival Jeddah


7th Asian Film Festival adalah acara rutin tahunan pemutaran film - film Asia yang diselenggarakan oleh The Asian Consuls General Club (ACGC) Jeddah.  Anggota ACGC yang tergabung di dalamnya adalah negara - negara Asia yaitu; Thailand, Pilipina, Brunei, Singapura, Pakistan, Malaysia, Korea, Jepang, India, Cina, Bangladesh, Sri Lanka dan Indonesia. Masing - masing Konsulat mendapatkan jadwal pemutaran film negaranya. Indonesia menjadi negara penutup dalam festival tersebut. Wisma Konjen yang berada di Distrik Hera malam itu diramaikan oleh pemutaran film  Habibie dan Aninun. Film ini diangkat dari memoir yang ditulis Habibie mengenai mendiang istrinya, Hasri Ainun Habibie, dalam buku Habibie dan Ainun.

Garuda Indonesia dan Indomie merupakan  dua sponsor utama di Wisma Konsulat lalu. Garuda memberikan tiga tiket gratis sebagai doorprize dan Indomie membanjiri pengunjung dengan berbagai macam doorprize yang tak kalah menarik.

 (Persiapan)

  (Stand Korea dan Jepang paling banyak peminat)

Tidak hanya pemutaran film, tapi juga ada food festivalnya lho. Setelah film selesai, pengunjung bisa menikmati berbagai makanan khas negara - negara Asia yang tergabung dalam club tersebut. Biasanya yang paling banyak ditunggu adalah stand makanan Jepang dan Korea yang berada paling pojok. Sebelum acara pemutaran film selesai dan stand - stand makanan di buka, stand makanan Jepang dan Korea sudah terlebih dahulu dipadati pengujung :D
 
Masih sulit dipercaya pemutaran film ini terjadi di negara seperti Arab Saudi yang dikenal konservatif. Tapi, Kerajaan perlahan - lahan telah menyesuaikan diri, berkembang dengan cara aman dan terkendali.
Well, tujuan diadakannya pemutaran film ini juga positif, tidak lain adalah untuk menjalin persahabatan antar negara - negara, saling memperkenalkan budaya, masyarakat, tradisi dan kebiasan - kebiasan di negaranya masing - masing melalui bidikan kamera.

                                       
                                                                                            (Hasil antrian di Stand Jepang )

In The Middle of Nowhere

There was a story behind this pic πŸ˜ƒ asli emeijing for us. Lihat si Hemar ini sebelum masuk Madinah. Sengaja berhenti?? Enggaaak. Karena qad...