Tampilkan postingan dengan label toursim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label toursim. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Explore Tokyo Part 3


Here we are...
Day 1
we're so exiting to see Japan from the sky. Sayangnya ketika pilot menjelaskan bahwa di sisi sebelah kiri bisa terlihat Mount Fuji, seat kita berada di sisi berlawanan, yaah...nggak terlihat deh Fujisan nya. Tapi dari sisi jendela kami, Tokyo Bay, jalan menuju terowongan bawah laut dan wind towernya terlihat jelas dari atas.. Sughoi..

Tower of Wind, Tokyo Bay
Disebut sebagai "Menara Angin" in local language disebut "Kaze no to". Berlokasi di sebelah tenggara airport Haneda, posisinya berada di tengah laut. Ini merupakan ventilasi udara untuk terowongan bawah laut dengan kedalaman terowongan 40 meter yang membentang sepanjang 9.6 km dari Yokohama ke Chiba. Kabarnya pembangunan terowongan bawah laut terpanjang ini menghabiskan dana sekitar $ 11.2 M dan lama pembangunan kurang lebih 31 tahun.

Nah, karena sisi Fujisan nya nggak terlihat, saya attach juga fotonya ya. siapa tahu tahun berikutnya saya bisa ambil foto Fujisan dari atas seperti ini juga hehe. Foto credit dari  Japan Community Instagram

Fujisan  from above
Airport
Kami memilih landing di Haneda karena lebih dekat dari pusat kota dibandingkan turun di bandara Narita. Dari Haneda ke Tokyo dengan kendaraan bus atau mobil hanya sekitar 30 menit, tergantung situasi traffic nya juga. Kalau ingin lebih cepat lagi pakai Tokyo Monorail hanya sekitar 20 menit ke pusat kota.

Haneda walaupun dikenal sebagai bandara Internasional Tokyo justru nggak banyak melayani rute internasional, lebih banyak melayani penerbangan domestik. Haneda termasuk bandara yang super busy dan masuk dalam peringkat 5 besar bandara tersibuk di dunia.
Nah bandara Narita yang terletak 60 km dari Tokyo terletak di Chiba Perfecture, memiliki tiga gedung terminal, lebih banyak melayani rute internasional dibandingkan Haneda, juga rute domestik dan low budget airlines. Khusus terminal 3 ini melayani low budget airlines. Kalau pilihan landing di Narita untuk ke Tokyo memakan waktu sekitar 1.5 - 2 jam.

Layanan Monorail di Haneda

Sejak dari turun pesawat hingga imigrasi kami memilih menggunakan Travelator atau Moving Walkway karena kami bawa kiddos yang cukup rempong hehe. Ternyata benar, jarak terminal ke imigrasi cukup jauh jadi kami nggak capek berjalan dan disini kami baru tahu kebiasaan di Jepang jika pakai travelator, tangga atau escalator kalau nggak terburu - buru ambillah posisi sebelah kiri karena posisi sebelah kanan dipakai untuk pejalan yang ingin lebih cepat bergerak.

use Moving Walkway on the left side if you're not in rush
Setelah selesai proses imigrasi kami langsung menuju counter Internet dan menyewa pocket internet untuk jangka waktu 1 minggu. Inilah yang menjadi salah satu "sahabat kami" selama di Jepang.

to be continued...


Rabu, 28 Desember 2016

Explore Tokyo Part 2

(episode 2)
Setelah urusan visa selesai, kita menuju penukaran uang, kabarnya lebih mahal tukar uang di Jepang ketimbang dari negara kita berangkat (eh tergantung darimana kita berangkat  hehe). So pergilah kita ke penukaran uang, change from SAR to ¥ dan juga tukar beberapa $, just in case.



Tibalah harinya kita menuju Jepang. Kami pakai penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta. Flight jam 23.00 tapi sejak habis ashar kami sudah di Soekarno-Hatta, lebih baik awal daripada telat. Kenapa kami pilih Garuda? karena tiket itu yang kami punya dan jangan tanya ya harganya berapa hehe

GA 874 CGK-HND
(hubby's boarding pass)

Setelah proses check in selesai, langsung deh kita menuju imigrasi dan menunggu di gate 7 keberangkatan international. Suasana di gate 7 sudah ramai, untung masih ada tempat duduk. Banyak orang Jepang baik keluarga, pekerja dan nampaknya mahasiswa pakai Garuda malam itu.
And here we are, sat on GA 874 to Tokyo...wohoooo...

me, Son and Hubby
Garuda tujuan Tokyo sangat nyaman lho, Nggak salah deh kalau maskapai ini dinobatkan sebagai maskapai bintang 5. Saat itu saya lihat ada 2 native flight attendant atau pramugari yang berasal dari Jepang. Mereka sangat lancar berbahasa indonesia dan sangat ramah. Selama terbang saya sering terjaga karena menyusui si kecil dan selama itu saya jarang melihat orang Jepang bolak balik ke toilet. Kebersihan toilet pesawat rute ini memang pas diberi bintang 5. Toilet yang habis pakai tidak nampak genangan air dilantainya atau genangan air di washbasin. Nampaknya kesadaran menjaga kebersihan ruang publik orang Jepang juga cukup tinggi dan ini bisa meringankan kerja mbak - mbak pramugari untuk membersihkan toilet hehe.

Meals yang masakapai ini tawarkan juga enak - enak. Saya lebih memilih ala - ala Jepang karena terlihat lebih lezat dan variatif. Puas mengawali pagi di atas Filipina dengan sarapan lezat maskapai bintang lima.

This is oishii, walau hanya dapat edamame 2 biji saja

To be Continued...

Senin, 24 Maret 2014

Masjid Hani Rifa'i adalah masjid Hassan Al-Anani



Taman  Al- Hamra, Jeddah
Biasanya akhir pekan kita menghabiskan pagi atau sore hari di tepi pantai laut merah. Salah satu tempat favorit kami adalah di distrik Al-Hamra, dekat dengan air mancur tertinggi di dunia,  "king Fahad Fountain" bisa dilihat disini:  http://catatandarijeddah.blogspot.com/2013/03/king-fahd-fountain-juga-dikenal-sebagai.html

Di tepian pantai Al - Hamra ini pemandangannya hijau royo royo, pohon dan rumput - rumput banyak tumbuh dan terawat, tentu saja nyaman untuk pedestrian alias para pejalan kaki. Disana kita bisa berjalan - jalan dengan nyaman. Banyak juga lho yang memanfaatkan tepi pantainya untuk memancing ikan. Rata - rata yang senang memancing di akhir pekan berasal dari Pilipna dan Indonesia. Saya lebih memilih memanfaatkannya untuk berolahraga ataupun duduk sambil menikmati teh hangat dan sarapan pagi.

Dua tahun ini Saudi sibuk berbenah, tempat - tempat indah mulai di bangun dan dirawat apik, salah satunya sepanjang tepian laut merah yang semakin terlihat cantik menarik.

Masjid Hassan Al-Anani / Masjid Hani Rifa'i
Satu hal yang menarik perhatian saya, di tempat ini juga terdapat masjid yang besar dan nyaman sekali. Orang indonesia biasa menyebutnya masjid Hani Rifa'i, hampir seluruh kegiatan outdoor orang Indonesia bertempat di taman sekitar masjid. Entahlah siapa yang menamainya pertama kali. Tapi memang kabarnya dulu Syaikh Hani Rifa'i selalu rutin menjadi imam tarawih di masjid ini saat Ramadhan. Jangan salah ya, nama asli masjid ini adalah masjid Hassan Al - Anani dan masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah lho. Hmm... ya sebaiknya Anda tahu :)

In The Middle of Nowhere

There was a story behind this pic ๐Ÿ˜ƒ asli emeijing for us. Lihat si Hemar ini sebelum masuk Madinah. Sengaja berhenti?? Enggaaak. Karena qad...